Sangkar Burung Pengisi Hari Tua
Jumat 14 Juli 2017

Pandeyan - Usia senja bukanlah alasan untuk berpangku tangan. Usia senja bukan alasan untuk menggantungkan hidup kepada anak.Tangan-tangan keriput Dwijo Suparno masih aktif menghaluskan kayu dengan alat pasahnya dalam mengisi hari senjanya. Topi merah telah usang yang setia menutupi sebagian rambutnya yang memutih.Peluhnya yang menetes mengalir di pipi kanan dan kiri seolah penyemangat jerih payahnya.

Kayu yang telah dipasah halus kemudian dirangkai menjadi satu bersama jeruji bambu yang telah diserut sebelumnya dengan alat manual. Sangkar burung buatan tangan ini terangkai kokoh seperti tekat sang pembuatnya. Pria enam puluh Sembilan tahun ini terus membuat sangkar tanpa pernah mengeluh. Membuat sangkar burung memerlukan sebuah kesabaran dan keterampilan. Permukaan kayu harus dihaluskan terlebih dahulu dengan mesin pasah. Setelah itu kayu dipotong sesuai dengan ukuran sangkar yang akan dibuat. Proses terakhir adalah menempelkan jeruji kawat dengan menggunakan staples.

Sebelum masa senjanya tiba Dwijo adalah seorang mandor di Pasar Kliwon. Dua tahun lalu ketika tiba pensiun, ia pun beralih menjadi seorang pengrajin sangkar burung untuk tetap menafkahi keluarganya. Ia mempelajari cara membuat sangkar burung dari temannya. Tak hanya menjadi pengrajin sangkar, terkadang Dwijo menjadi tukang bangunan sebagai pekerjaan sampingan.

Dwijo setiap hari membuat sangkar di halaman rumahnya yang berada di Dukuh Garen Rt 1 Rw 3 Desa Pandeyan Kecamatan Ngemplak Boyolali. Sangkar burung yang dibuat adalah sangkar burung  Love Bird dan Murai. Harga yang dijualnya pun bervariasi, tergantung pada ukuran sangkar.

Dalam satu minggu, tenaga tuanya masih mampu menghasilkan 10 kandang Love Bird. Sangkar Murai yang berukuran 40 cm x 60 cm, biasa dijualnya dengan harga tujuh puluh ribu rupiah. Untuk ukuran yang lebih besar dijual dengan harga seratus empat puluh ribu rupiah. Dalam satu minggu, Dwijo mampu mendapatkan untung bersih sekitar tiga ratus ribu rupiah.

Dwijo tidak pernah pusing untuk memasarkan dagangannya. Puluhan pedagang mampir ke rumah untuk membeli sangkar- buatannya. Dwijo hanya sesekali saja harus datang ke pasar untuk mengantar dagangan kepada para tengkulak.

Saat ini rupiah yang dihasilkan Dwijo belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Salah satu hal yang menjadi kendala adalah listrik. Beban listrik yang mahal sangat berpengaruh karena sebagian besar alat-alat pertukangan yang digunakan menggunakan tenaga listrik. Selain itu, pemasaran yang belum meluas juga masih menjadi kendala. Silakan menghubungi Dwijo di 085-725-522-003 jika ingin memesan sangkar burung unik asli Pandeyan.

Berita Terkini
Bersama Untuk Kesejahteraan
Jumat 14 Juli 2017
Jalan Nyaman di Dukuh Garen
Jumat 14 Juli 2017